Telset.id – Para astronom menemukan objek aneh di sistem bintang jauh yang menentang klasifikasi ilmiah. Objek tersebut mengorbit katai coklat (brown dwarf), yang merupakan objek substellar lebih besar dari raksasa gas namun lebih kecil dari bintang terkecil. Temuan ini memicu perdebatan tentang definisi “bulan” dan “planet” dalam astronomi.
Objek yang baru diidentifikasi ini tidak mengorbit planet, sehingga secara teknis bukan “bulan”. Namun, objek itu juga bukan planet karena tidak mengorbit bintang secara langsung. Situasi ini membuat klasifikasinya menjadi sulit ditentukan.
“Objek ini agak sulit didefinisikan menggunakan kata-kata berbasis Tata Surya seperti ‘planet’ dan ‘bulan’,” kata Kevin Hoy, mahasiswa European Southern Observatory (ESO) dan penulis utama studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature, dalam sebuah pernyataan.
Hoy dan rekan-rekannya mencatat dalam makalah bahwa lebih dari 6.000 eksoplanet telah ditemukan, namun belum ada eksobulan yang terdeteksi secara meyakinkan. “Meskipun ada kandidat, mereka kurang konfirmasi dan masih kontroversial,” tulis mereka.
“Ini adalah pertama kalinya, sepengetahuan kami, teknik ini menghasilkan bukti adanya satelit di sekitar katai coklat pendamping,” lanjut makalah tersebut.
Bintang utama sistem ini, CD-35 2722, memiliki massa sekitar setengah dari Matahari dan terletak sekitar 72 tahun cahaya dari tata surya kita. Hoy dan rekan-rekannya kini berusaha mencari label baru untuk objek aneh ini. Salah satu julukan yang melekat adalah “eksosatelit” (exosatellite), yaitu objek dengan setidaknya massa Jupiter, sementara katai coklat memiliki lebih dari 30 kali massa raksasa gas tersebut.
“Eksosatelit ini jelas cukup masif untuk menjadi planet, tetapi ia tidak mengorbit bintang, meskipun ia mengorbit objek yang mengorbit bintang,” jelas Hoy dalam pernyataannya. “Menjadi roda ketiga dalam sistem ini membuat kami ingin menyebutnya bulan, meskipun tidak seperti bulan berbatu kecil yang ada di sistem kita.”
Alice Zurlo, rekan penulis makalah dan profesor di Universidad Diego Portales, menambahkan, “Kami memiliki garis pemisah yang jelas antara planet dan Matahari di Tata Surya, sehingga mendefinisikan hal-hal seperti bulan itu sederhana. Dalam sistem CD-35 2722, di mana kami mengaburkan batas antara bintang, planet, dan bulan, semuanya menjadi lebih rumit untuk dijelaskan.”
Tim peneliti menggunakan Very Large Telescope (VLT) milik ESO untuk mengamati goyangan kecil pada orbit katai coklat yang disebabkan oleh keberadaan objek misterius di sekitarnya. Penemuan ini memicu perdebatan sengit tentang apa yang kita definisikan sebagai “bulan”.
Menurut Sky and Telescope, saat ini tidak ada definisi resmi dari International Astronomical Union (IAU). Dan tidak semua orang setuju dengan julukan “eksosatelit” yang diajukan peneliti.
“Saya pasti tidak akan menyebutnya eksobulan atau eksosatelit,” kata Roman Rafikov, profesor astrofisika di University of Cambridge yang tidak terlibat dalam penelitian, kepada Sky and Telescope. Ia menambahkan bahwa pengaturan serupa telah diidentifikasi sebelumnya. “Saya tidak berpikir ada ambiguitas di sini,” tambahnya. “Saya menyebut sistem bintang-katai coklat sebagai ‘biner’, dan objek baru sebagai ‘planet’ di sekitar salah satu komponen biner.”
Nader Haghighipour, astronom dari University of Hawai’i yang juga tidak terlibat, menambahkan, “Saya sangat percaya objek yang baru ditemukan ini adalah inti bintang yang gagal, dan bagi saya seluruh sistem hanyalah sistem tiga benda substellar. Benda bermassa Jupiter bukanlah satelit.”
Penemuan ini membuka diskusi baru dalam dunia astronomi tentang bagaimana mengklasifikasikan objek-objek langit yang berada di luar tata surya kita. Para astronom kini terus mempelajari sistem CD-35 2722 untuk memahami lebih lanjut tentang sifat objek misterius ini.
Penemuan objek ini menambah daftar panjang temuan astronomi yang menantang pemahaman kita tentang alam semesta. Dengan teknologi observasi yang semakin canggih, para ilmuwan terus menemukan objek-objek baru yang memperluas wawasan manusia tentang kosmos.
Para peneliti berharap studi lebih lanjut dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana sistem seperti ini terbentuk dan berevolusi. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa masih banyak misteri di alam semesta yang menunggu untuk diungkap.
Tim peneliti kini terus mengamati sistem CD-35 2722 dengan teleskop yang lebih canggih untuk mengumpulkan data tambahan. Mereka berharap dapat mengkonfirmasi apakah objek ini benar-benar eksosatelit atau memerlukan klasifikasi baru sama sekali.
Penemuan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dalam penelitian astronomi. Dengan melibatkan para ilmuwan dari berbagai negara, penelitian ini berhasil mengungkap fenomena langka yang mungkin terlewatkan jika dilakukan secara individu.
Para astronom kini menantikan data lebih lanjut yang dapat membantu menjelaskan sifat sebenarnya dari objek misterius ini. Sementara itu, perdebatan tentang definisi bulan dan planet terus berlanjut di kalangan ilmiah.





Komentar
Belum ada komentar.