Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai kombinasi kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi blockchain dapat mencegah kebocoran dalam sistem perdagangan nasional. Digitalisasi dari hulu ke hilir, menurutnya, memungkinkan pemerintah dan pelaku usaha mendeteksi titik kehilangan, meningkatkan efisiensi, serta menekan potensi kecurangan.
“Kalau bisa dibuat satu sistem perdagangan yang pencatatannya lebih akurat, kita bisa mencegah kebocoran. Produksinya juga bisa lebih baik karena kita dapat mendeteksi titik-titik kehilangan sehingga optimasi bisa dilakukan,” kata Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar saat menerima audiensi Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network (BRAIN) IPB University di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/7/2026). Menurutnya, blockchain mampu menghadirkan sistem pencatatan transaksi yang transparan dan sulit dimanipulasi. Sementara itu, AI dapat dimanfaatkan untuk melakukan prediksi permintaan pasar, mengoptimalkan produksi, hingga meningkatkan efisiensi distribusi barang.
Nezar menjelaskan bahwa selama ini setiap perpindahan data, pembayaran, maupun logistik dalam rantai perdagangan selalu menimbulkan biaya tambahan. “Setiap perpindahan moda ada cost. Pindah ke platform lain, ada cost lagi. Karena itu sekarang arahnya adalah sistem yang seamless, end-to-end, sehingga proses bisnis menjadi lebih efisien,” tuturnya.
Oleh karena itu, digitalisasi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir menjadi penting agar proses bisnis berlangsung lebih efisien. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transformasi digital sektor produktif, khususnya di bidang agroindustri yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional.
“Ini bagus dan sesuai juga dengan misi IPB. Teknologi bisa membantu sistem perdagangan menjadi lebih baik, pencatatannya lebih akurat, dan berbagai potensi fraud dapat ditekan,” kata Nezar.
Baca Juga:
Lebih lanjut, Nezar mengapresiasi perhatian kalangan akademisi terhadap perkembangan teknologi mutakhir, termasuk quantum computing dan blockchain. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan inovasi yang mendukung kebutuhan nasional.
“Kita harus terus memasang mata dan telinga terhadap perkembangan teknologi. Yang paling penting adalah bagaimana solusi-solusi digital yang dikembangkan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mendukung program-program strategis nasional,” pungkas Nezar.
Penerapan AI dan blockchain di sektor perdagangan nasional juga sejalan dengan tren global. Sejumlah platform keuangan telah mulai mengadopsi teknologi serupa untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi. Misalnya, Marketplace AI Agent untuk transaksi otonom mulai diluncurkan oleh berbagai bursa kripto.
Dengan sistem pencatatan yang lebih akurat dan transparan, potensi kebocoran dan kecurangan dalam rantai perdagangan dapat diminimalkan. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang lebih sehat dan berkelanjutan.





Komentar
Belum ada komentar.