Telset.id – Paramount resmi menyelesaikan gugatan antitrust yang diajukan 12 Jaksa Agung negara bagian Amerika Serikat, sehingga proses akuisisi Warner Bros. Discovery dipastikan berjalan sesuai rencana. Kesepakatan ini menjadi penghalang terakhir yang selama ini menahan laju merger raksasa Hollywood tersebut.
Gugatan antitrust tersebut dipimpin oleh Jaksa Agung California, Rob Bonta. Dengan diselesaikannya perkara hukum ini, Paramount dan CEO-nya, David Ellison, dapat melanjutkan langkah akuisisi tanpa hambatan berarti. Penyelesaian ini juga menyelamatkan Paramount dari kewajiban membayar denda keterlambatan sebesar US$7 juta per hari kepada Warner Bros. apabila proses rampung sebelum 1 Oktober.
Bloomberg melaporkan bahwa negosiasi penyelesaian berlangsung pada akhir pekan 19–20 September. Empat negara bagian yang awalnya menolak syarat kesepakatan dengan California, yakni Massachusetts, New York, Connecticut, dan Minnesota, akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut. Mereka menilai biaya perjuangan hukum tidak lagi rasional tanpa California sebagai penggerak utama. Keempat negara bagian itu dilaporkan memperoleh jaminan dewan editorial independen untuk CBS dan CNN sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.
Syarat Kesepakatan dan Komitmen Produksi Film
Dalam kesepakatan tersebut, Paramount menyetujui sejumlah komitmen yang mengikat secara hukum. Paramount bersedia mempertahankan operasionalnya di California dan tidak menjual lahan Warner Bros. maupun Paramount Studios selama minimal lima tahun. Perusahaan juga berkomitmen menginvestasikan US$300 juta per tahun untuk produksi film di Amerika Serikat, dengan total mencapai US$1,5 miliar.
Selain itu, Paramount wajib merilis 30 film ke bioskop setiap tahun. Jika kewajiban ini tidak dipenuhi, Paramount dikenai sanksi finansial sebesar US$30 juta untuk setiap film yang gagal tayang di bioskop. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Paramount berpotensi dipaksa menjual sahamnya ke Miramax, studio yang dikenal lewat film Pulp Fiction, apabila target produksi tidak tercapai.
Paramount juga akan membentuk dewan pihak ketiga yang independen untuk mengawasi CNN dan CBS News. Langkah ini bertujuan menjaga independensi editorial kedua perusahaan media tersebut di bawah kepemilikan baru.
Baca Juga:
CEO Paramount David Ellison merilis pernyataan resmi terkait penyelesaian sengketa ini. Ia menyampaikan terima kasih kepada Jaksa Agung Bonta beserta para Jaksa Agung lainnya, serta kepada Writers Guild of America (WGA), karena telah bernegosiasi dengan itikad baik untuk menemukan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak. Ellison juga mengapresiasi dukungan Gubernur Newsom sepanjang proses ini.
“Tujuan bersama kami adalah hasil yang paling melayani konsumen, pekerja, dan yang terpenting, komunitas kreatif yang sangat vital bagi seni penceritaan visual. Kami yakin perjanjian ini melakukan hal itu, dengan mengabadikan serangkaian komitmen yang mencakup 30+ film setiap tahun dan perluasan produksi film AS untuk membantu menghidupkan kembali industri kami di sini,” ujar Ellison dalam pernyataannya.
Jalan Panjang Menuju Merger dan Penolakan Publik
Perjalanan akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount berlangsung panjang dan penuh hambatan. Netflix awalnya sempat menyetujui akuisisi sebelum Paramount yang dipimpin David Ellison terus mendorong negosiasi hingga akhirnya mengajukan tawaran pengambilalihan senilai US$110 miliar. Langkah tersebut membuat Paramount berhasil mengalahkan Netflix dalam perebutan Warner Bros. Discovery.
Namun, tidak semua pihak mendukung kemenangan Paramount. Dukungan finansial dari dana kekayaan negara Timur Tengah dan kekhawatiran tentang jaminan distribusi film ke bioskop menjadi sumber ketidakpercayaan. Aktor Mark Ruffalo secara terbuka menyampaikan penolakannya kepada Jaksa Agung California, Rob Bonta, melalui platform X. Ia menyertakan tautan petisi dan menyatakan keberatannya atas kesepakatan tersebut.
“Jangan berani @AGRobBonta, jangan menyerah. 5670 pembuat film mempertaruhkan nyawa mereka untukmu melawan merger ini. 75.000+ lainnya dan terus bertambah telah menandatangani untuk memberitahumu agar tidak mengalah hanya dalam 3 minggu. Kamu bekerja untuk rakyat — orang-orang yang akan dirugikan jika kamu membiarkan kesepakatan buruk yang penuh janji kosong ini berlanjut. Tolak kesepakatan ini. Rakyat tidak menginginkannya!” tulis Ruffalo.
Terlepas dari penolakan tersebut, Paramount berpotensi menjadi distributor film terbesar di Hollywood. Kondisi ini menempatkan masa depan industri perfilman pada wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya, langkah agresif Paramount dalam merebut Warner Bros. Discovery juga sempat diwarnai gugatan terhadap Warner Bros. Discovery demi menjegal Netflix, sebagaimana tercatat dalam dinamika persaingan akuisisi yang berlangsung ketat.
Kesepakatan ini juga tidak lepas dari peran pendanaan besar yang menopang langkah akuisisi Paramount, termasuk dana dari Timur Tengah yang turut mendorong akuisisi Warner Bros. oleh Paramount. Di sisi lain, kegagalan Netflix dalam perebutan Warner Bros. Discovery justru membawa konsekuensi finansial tersendiri bagi Netflix.
Dengan diselesaikannya gugatan antitrust dan dipenuhinya sejumlah syarat kesepakatan, merger Paramount dan Warner Bros. Discovery kini memasuki tahap final. Perhatian industri tertuju pada bagaimana komitmen produksi 30 film per tahun, investasi US$1,5 miliar, serta pengawasan independen CNN dan CBS News akan dijalankan setelah akuisisi rampung.





Komentar
Belum ada komentar.