Telset.id – CEO Hyundai Motor, Jose Munoz, memperingatkan bahwa Amerika Serikat berpotensi menjadi pasar berikutnya bagi penetrasi kendaraan listrik (EV) murah asal China jika tidak ada perlindungan yang memadai. Peringatan ini disampaikan Munoz dalam wawancaranya dengan Reuters di San Jose, California, pada Kamis (2026), merespons pesatnya pertumbuhan merek-merek China di berbagai pasar global yang minim hambatan dagang.
Menurut Munoz, kendaraan listrik asal China sudah lebih murah 30% hingga 40% dibanding merek otomotif sebanding di sejumlah pasar seperti Italia, Spanyol, dan Prancis. Angka tersebut bahkan sudah memperhitungkan tarif dan hambatan dagang lain yang dikenakan pada EV impor asal China di Eropa. Artinya, daya saing harga mereka tetap kuat meski dihantam berbagai kebijakan proteksi.
Kondisi berbeda terjadi di Inggris, pasar yang tidak menerapkan langkah perlindungan serupa. Munoz menyebut Inggris yang sebelumnya “sangat menguntungkan dan sangat kuat” kini “menjadi seperti China”. “Semua produk terlaris adalah merek China karena tidak ada hambatan,” tegasnya. Situasi ini membuat harga EV di Inggris menjadi lebih terjangkau dibanding mobil bensin, sebuah pergeseran yang jarang terjadi di pasar lain.
Dominasi Merek China di Inggris Terlihat dari Data
Data terbaru dari Society of Motor Manufacturers & Traders (SMMT) Inggris memperkuat peringatan Munoz. Sepanjang Agustus, EV menyumbang 29,8% dari registrasi mobil baru, menjadikannya pangsa bulanan tertinggi kedua sepanjang tahun ini. Hingga Agustus, tercatat 355.746 EV terdaftar di Inggris, jauh melampaui 194.327 hybrid electric vehicle (HEV) dan mendekati 598.842 unit mobil bensin.
Menariknya, penjualan mobil bensin turun 3% sepanjang tahun ini, sementara penjualan EV justru naik 28,6%. Merek-merek China pun terus menggerus pangsa pasar, dengan kontribusi lebih dari 15% dari total registrasi mobil baru di Inggris. BYD, salah satu pemain utama asal China, mencatatkan 48.265 unit terdaftar di Inggris pada delapan bulan pertama tahun ini, hampir dua kali lipat dari 24.333 unit pada periode yang sama di 2025.
Pangsa pasar BYD kini mencapai 3,48% hingga Agustus, naik dari 1,92% pada tahun lalu. Pendorong utamanya adalah Dolphin Surf, EV termurah BYD yang dibanderol mulai £18.675 di jalan raya Inggris, atau sekitar US$25.000. Harga agresif inilah yang membuat merek China sulit dibendung di pasar tanpa proteksi.
Peringatan Munoz muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaannya menerima produsen otomotif China jika kendaraan mereka diproduksi di dalam negeri AS. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News pekan lalu. Namun untuk saat ini, AS masih memberlakukan tarif 100% terhadap impor EV dari China, yang praktis memblokir akses kompetisi murah tersebut ke pasar Amerika.
Selain tarif, AS juga menerapkan pembatasan pada perangkat lunak kendaraan terhubung, baterai, serta mineral kunci asal China. Kombinasi kebijakan ini menjadi tembok utama yang menahan laju merek China di pasar otomotif terbesar kedua dunia itu.
Ford dan Hyundai Siapkan Strategi Tandingi China
Munoz bukan satu-satunya eksekutif otomotif yang menyuarakan kekhawatiran serupa. CEO Ford, Jim Farley, berulang kali memperingatkan bahwa EV China merupakan “ancaman eksistensial” bagi produsen otomotif Barat. Dalam wawancara dengan Fox & Friends pada April lalu, Farley menyebut China memiliki kapasitas produksi lebih dari 50 juta kendaraan, atau cukup “menutupi seluruh manufaktur dan penjualan kendaraan di AS”.
Farley menekankan dampak ekonomi yang “menghancurkan” mengingat manufaktur adalah “jantung dan jiwa” Amerika Serikat. “Kita tidak boleh membiarkan mereka masuk ke negara kita,” tegasnya. Pengalaman pribadinya mengendarai Xiaomi SU7 selama enam bulan setelah menerbangkannya dari Shanghai ke Chicago pada 2024 membuatnya enggan melepas mobil tersebut, sekaligus menilai Xiaomi sebagai “raksasa industri”.
Baik Ford maupun Hyundai kini bertaruh pada EV yang lebih efisien dan berbiaya rendah untuk bersaing dengan China. Ford akan meluncurkan pikap Fathom pada 2027, EV pertama berbasis platform UEV baru dengan harga mulai US$30.000. Sementara Hyundai Motor telah meluncurkan IONIQ 3 di Eropa awal tahun ini, dan Kia menjual EV3 serta EV2. Hyundai juga menyiapkan model seperti Hyundai IONIQ 6 N untuk memperkuat portofolio EV performanya.
Meski Hyundai tidak berencana menjual IONIQ 3 di AS, mereka tetap memasarkan IONIQ 5 yang menjadi salah satu EV paling populer dan terjangkau di sana, dengan harga mulai US$35.000. Sementara itu, Kia telah membuka pemesanan EV3 di AS, SUV listrik terkecilnya, dengan harga mulai US$29.890 untuk model 2027. Langkah ini menunjukkan keseriusan pabrikan Korea dalam menjaga daya saing di segmen EV murah.
Farley bahkan telah memperingatkan karyawan Ford pada Juli lalu bahwa perusahaan sedang bersiap menghadapi produsen otomotif China di pasar AS dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Meski tarif dan berbagai perlindungan lain masih melindungi produsen AS untuk saat ini, mereka tetap menghadapi tekanan yang sama di pasar luar negeri. Menilik pola yang terjadi di Inggris, tampaknya hanya soal waktu sebelum merek China benar-benar masuk ke pasar Amerika.
Ketahanan baterai juga menjadi faktor krusial dalam kompetisi ini. Sebuah studi baterai EV terhadap 500 ribu unit menunjukkan Hyundai Ioniq 5 sebagai salah satu yang paling awet, memberi keunggulan tersendiri bagi pabrikan Korea dalam mempertahankan kepercayaan konsumen. Sementara itu, model seperti Hyundai Staria Electric memperlihatkan ekspansi Hyundai ke segmen yang lebih luas di Eropa, pasar yang kini menjadi medan tempur utama melawan dominasi China.

Data yang ada memperlihatkan satu hal jelas: di pasar tanpa hambatan dagang, merek China mendominasi. Inggris menjadi bukti nyata, dengan EV China menguasai daftar produk terlaris dan harga EV yang kini lebih murah dari mobil bensin. Bagi AS, pertanyaan sesungguhnya bukan apakah merek China akan masuk, melainkan seberapa lama tembok tarif 100% dan pembatasan teknologi mampu menahan mereka. Selama produsen domestik seperti Hyundai, Ford, dan Kia belum mampu menyamakan struktur biaya, tekanan kompetisi akan terus mengintai begitu perlindungan itu dilonggarkan.





Komentar
Belum ada komentar.