📑 Daftar Isi

Lincoln Aviator EX8 PHEV China tampil depan dengan grille besar dan LiDAR atap

Lincoln Aviator EX8 PHEV China Resmi Terbongkar di MIIT

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Lincoln Aviator EX8 terbongkar lewat dokumen MIIT pada 4 November 2026
  • SUV PHEV lima kursi produksi joint venture Changan-Ford di Chongqing
  • Mesin 1,5 liter turbo JL469ZQ1 Changan bertenaga 110 kW (148 hp)
  • Baterai LFP buatan joint venture Changan-CATL, menggantikan BYD
  • Dimensi 5.055/1.995/1.790 mm, wheelbase 3.010 mm, bobot 2.480–2.580 kg
  • LiDAR atap untuk sistem bantuan berkendara Level 2 dengan NOA
  • Debut di Guangzhou Auto Show 2026, peluncuran 2027

Telset.id – Lincoln Aviator EX8, crossover lima kursi produksi joint venture Changan-Ford, resmi terbongkar lewat dokumen Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) pada 4 November 2026. Model ini membawa powertrain plug-in hybrid dan sistem bantuan berkendara berbasis LiDAR, menjadi alternatif yang diklaim lebih kompetitif dibanding Aviator bermesin V6 yang sudah beredar di China. Peluncurannya dijadwalkan 2027, setelah debut di Guangzhou Auto Show 2026.

Pengungkapan ini menutup rangkaian teka-teki yang sebelumnya hanya terlihat lewat unit uji jalan bertutup kamuflase tebal. MIIT mempublikasikan foto serta spesifikasi inti kendaraan, praktik lazim di China sebelum sebuah model mendapat izin edar. Dari dokumen itu, publik akhirnya bisa melihat wujud utuh Aviator EX8 tanpa selubung.

Posisinya cukup strategis. Aviator versi lama mengandalkan mesin V6 sebagai standar di China, sementara EX8 memilih jalur elektrifikasi. Langkah ini menempatkan Lincoln pada segmen SUV besar yang mulai bergeser ke PHEV, meski merek-merek China sendiri kian agresif merilis produk listrik dan hybrid di segmen yang sama.

Desain dan Sistem Bantuan Berkendara

Aviator EX8 mengadopsi bahasa desain khas Lincoln dengan grille radiator besar dan logo berukuran masif di depan. Bagian depan dipertegas lampu utama berbentuk kotak, sementara buritan memakai satu unit lampu belakang memanjang. Detail lain mencakup gagang pintu konvensional, pilar berwarna hitam, serta sensor LiDAR yang dipasang di atap.

Kehadiran LiDAR mengisyaratkan sistem bantuan berkendara Level 2 yang kemungkinan besar mendukung fitur Navigate On Autopilot (NOA). Fitur ini memungkinkan mobil berkendara dari satu alamat ke alamat lain secara mandiri di China, dengan catatan pengemudi tetap wajib memantau prosesnya. Belum ada penjelasan resmi soal cakupan wilayah maupun ketersediaan fitur tersebut di luar China.

Tampilan depan Lincoln Aviator EX8 dengan grille besar dan lampu kotak

Dari sisi dimensi, Aviator EX8 tercatat 5.055 mm panjang, 1.995 mm lebar, dan 1.790 mm tinggi, dengan jarak sumbu roda 3.010 mm. Angka ini membuatnya 25 mm lebih pendek dari Aviator V6 asli yang berkonfigurasi tiga baris kursi. Perbedaan signifikan justru ada di tata letak: EX8 hanya menyediakan lima kursi, bukan tujuh seperti versi lamanya.

Kendaraan ini berdiri di atas roda 21 atau 22 inci dengan ukuran ban 255/50 R21 atau 255/45 R22. Bobot kosongnya berada di rentang 2.480 hingga 2.580 kg, tergantung varian. Kombinasi ukuran bodi dan bobot itu menempatkannya di kelas SUV besar yang biasanya menuntut motor listrik bertenaga agar tetap responsif.

Mesin 1.5 Liter Changan dan Baterai LFP

Di bawah kap mesin, Aviator EX8 memakai mesin turbocharged 1,5 liter berkode JL469ZQ1 yang dikembangkan Changan dengan output 110 kW atau setara 148 hp. Mesin ini bukan unit eksklusif Lincoln — sejumlah model Changan menggunakannya, termasuk CS75 Plus, Nevo Q07, Uni-V, Nevo A06, dan CS55 Plus. Pemakaian mesin yang sama di banyak model menandakan strategi berbagi komponen di lingkungan Changan.

Informasi soal motor listrik belum tersedia. Namun dokumen MIIT menyebut Aviator EX8 memakai baterai LFP produksi joint venture Changan-CATL. Ini menjadi catatan menarik karena model Lincoln sebelumnya mengandalkan baterai buatan BYD. Pergantian pemasok baterai menunjukkan pergeseran rantai pasok di lini produk Lincoln China.

Kecepatan maksimum kendaraan ini mencapai 205 km/h. Tidak ada data resmi soal kapasitas baterai, jarak tempuh mode listrik, maupun konsumsi bahan bakar gabungan. Angka-angka itu biasanya baru muncul mendekati peluncuran atau saat sertifikasi akhir diterbitkan.

Bagian buritan Lincoln Aviator EX8 dengan lampu belakang memanjang

Kode internal CX810 sempat disebut sebagai identitas proyek Aviator EX8 sebelum nama resminya diumumkan. Kode ini muncul di sejumlah laporan awal ketika kendaraan masih dalam tahap pengujian jalan. Kini, dengan bocoran MIIT, hampir seluruh spesifikasi teknis intinya sudah terbuka, kecuali detail motor listrik dan performa konsumsi.

Strategi PHEV di segmen SUV besar bukan tanpa alasan. Model bermesin V6 menghadapi tekanan regulasi emisi dan insentif kendaraan baru energi di China. Dengan mesin 1,5 liter plus motor listrik, Aviator EX8 bisa memenuhi ambang batas kendaraan baru energi sekaligus tetap menawarkan daya jelajah panjang tanpa bergantung penuh pada pengisian daya. Pendekatan ini juga menekan harga jual dibanding V6.

Dari sisi kompetisi, EX8 akan berhadapan dengan gelombang SUV PHEV dan listrik merek lokal yang bergerak cepat. Beberapa produsen China bahkan sudah mengirim unit ke diler jauh sebelum tanggal peluncuran resmi, seperti terlihat pada Zeekr 7X 2027 yang mengusung baterai 85 kWh. Tekanan dari merek lokal inilah yang membuat Lincoln perlu menghadirkan varian PHEV lebih kompetitif.

Ketergantungan pada rantai pasok China juga bukan hal baru bagi merek asing. Produsen laptop dan PC pun mengalami hal serupa, seperti tergambar dalam laporan soal produksi PC ke China yang terdampak lonjakan biaya RAM. Pola yang sama terlihat di industri otomotif: komponen inti, termasuk baterai dan mesin, dipasok pemain lokal.

Detail roda dan pilar hitam Lincoln Aviator EX8

Bagi konsumen China, Aviator EX8 menawarkan kombinasi bodi besar, lima kursi lega, dan fitur bantuan berkendara berbasis LiDAR. Bagi pengamat industri, model ini menjadi indikator seberapa jauh Lincoln bersedia menyesuaikan diri dengan preferensi pasar China yang makin condong ke elektrifikasi dan fitur otonom. Debut di Guangzhou Auto Show 2026 akan menjadi panggung pertama untuk menilai respons pasar sebelum penjualan dimulai pada 2027.

Yang belum jelas justru seberapa besar peran Ford dalam pengembangan model ini. Dokumen MIIT hanya menyebut Changan-Ford sebagai produsen di Chongqing, tanpa merinci pembagian rekayasa antara kedua pihak. Hal serupa terjadi pada banyak model joint venture di China, di mana merek asing menyumbang desain dan standar kualitas, sementara mitra lokal menangani platform, mesin, dan baterai.

Hingga peluncuran resmi, sejumlah pertanyaan masih terbuka: berapa kapasitas baterai LFP, seberapa jauh jarak tempuh mode listrik, dan apakah fitur NOA tersedia di semua varian atau hanya tipe tertinggi. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan posisi Aviator EX8 di pasar SUV PHEV besar China yang kompetisinya makin ketat menjelang 2027.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.