Telset.id – Di atas kertas, Rivian R2 dan Tesla Model Y memiliki efisiensi EPA yang identik, namun pengujian dunia nyata menunjukkan konsumsi energi Rivian jauh lebih boros. Sebuah video dari Out of Spec Reviews dan RivianTrackr mengungkap kesenjangan efisiensi yang mencolok antara kedua mobil listrik ini. Perbedaan aerodinamika, bobot, dan prosedur uji EPA diduga menjadi penyebab utama hasil yang kontras tersebut.
Kedua kendaraan, yang sama-sama merupakan varian Performance, memiliki peringkat efisiensi EPA 105 MPGe. Angka ini setara dengan konsumsi listrik rata-rata 32 kilowatt-jam per 100 mil, atau 3,125 mil per kWh. Namun, saat diuji dalam kondisi nyata di lintasan yang sama, hasilnya jauh berbeda.
Para penguji mengemudikan R2 Performance bersama Model Y Performance pada kecepatan 50, 60, 70, dan 80 mph. Kedua mobil menggunakan ban bawaan dengan tekanan angin 42 psi sesuai rekomendasi pabrikan, membawa dua penumpang, dan pengaturan AC yang identik. R2 disetel ke mode Conserve yang paling efisien, sementara Tesla menggunakan mode Chill.
Hasil Pengujian Konsumsi Energi
Pada kecepatan 50 mph, R2 mengonsumsi energi 18,4% lebih banyak daripada Model Y. Saat kecepatan dinaikkan ke 60 mph, kesenjangan melebar hingga sekitar 26%. Pada tes 70 mph, Rivian menggunakan sekitar 20% lebih banyak energi, meskipun lalu lintas dan truk di dekatnya mungkin memberikan keuntungan aerodinamis bagi bodinya yang tegak.
Perbedaan terbesar terjadi pada kecepatan 80 mph. Di rute sepanjang kurang lebih 30 mil, R2 menggunakan energi 26,5% lebih banyak. Aerodinamika yang lebih baik dan bobot yang lebih ringan dari Model Y menjadi faktor dominan pada kecepatan tinggi ini.
Menariknya, R2 memiliki fitur yang tidak dimiliki Tesla, yaitu kemampuan untuk melepaskan motor magnet permanen di bagian depan saat meluncur. Hal ini memungkinkan R2 beroperasi sebagai EV penggerak roda belakang murni yang lebih efisien tanpa memutar motor yang tidak terpakai. Namun, keunggulan teknis ini belum cukup untuk menutup kesenjangan efisiensi.
Dalam simulasi stop-and-go kecepatan rendah sekalipun, R2 menggunakan sekitar 25% lebih banyak energi. Padahal, jenis berkendara ini seharusnya mengurangi kerugian aerodinamis dari bodinya yang lebih tinggi dan kotak. Namun, R2 memang dirancang dengan fokus off-road yang lebih besar dibandingkan Model Y, dengan ground clearance lebih tinggi dan kemampuan medan yang lebih baik.
Wajar jika Model Y menjadi tolok ukur yang sangat sulit. Varian termurahnya, yang dulunya dikenal sebagai Standard, baru-baru ini mencapai 4,13 mil per kWh dalam uji jangkauan 70 mph. Versi terbaru dari crossover ini juga menjadi kendaraan paling efisien dalam simulasi uji grup jalan raya musim dingin.
Keterbatasan Metodologi Pengujian
Perbandingan ini tidak bersifat definitif karena ada keterbatasan metodologi. Masalah utamanya adalah penguji hanya mengandalkan angka konsumsi energi yang dilaporkan oleh mobil, bukan mengukur listrik yang dikirim dari pengisi daya. Selain itu, sebagian besar rute pengujian relatif pendek.
Model Y tidak diragukan lagi lebih efisien di antara keduanya, tetapi seberapa besar perbedaannya sangat tergantung pada banyak faktor. Namun, pertanyaan tetap muncul: bagaimana dua mobil dengan peringkat efisiensi EPA yang sama bisa berbeda jauh di dunia nyata?
Salah satu penjelasannya adalah kedua peringkat tersebut diproduksi menggunakan prosedur uji EPA dan faktor koreksi yang berbeda. Dengan kata lain, angka-angka utama terlihat dapat dibandingkan secara langsung, padahal hasil yang mendasarinya mungkin tidak demikian. Para penguji bahkan menyebut perbandingan ini sebagai ‘apel-dan-jeruk’, dengan mengatakan bahwa R2 dan Model Y tampaknya telah disertifikasi menggunakan rute pengujian EPA yang berbeda.
Meskipun tidak secara definitif menyatakan bahwa ini adalah penyebab perbedaan di dunia nyata, mereka mengatakan R2 menjalani uji siklus penuh lima tahap, sementara angka Model Y tampaknya berasal dari serangkaian pengujian yang lebih pendek dengan data tambahan yang diserahkan dan koreksi EPA yang diterapkan. Fenomena serupa juga terjadi di industri lain, misalnya pada Fitur AI Spotify yang menuai kritik karena informasi tidak akurat.
Perbedaan hasil pengujian ini juga mengingatkan kita pada bagaimana Polusi Data Center AI di Texas yang setara jutaan mobil baru, menunjukkan bahwa angka resmi terkadang tidak mencerminkan dampak sebenarnya. Hal serupa terjadi pada efisiensi R2 dan Model Y.
Baca Juga:
Terlepas dari hasil pengujian ini, Rivian R2 bukanlah EV yang tidak efisien. Mobil ini dirancang dengan prioritas berbeda, yaitu kemampuan off-road. Model Y, di sisi lain, adalah tolok ukur efisiensi yang luar biasa sulit untuk dikalahkan. Konsumen perlu menyadari bahwa angka EPA hanyalah satu bagian dari cerita, dan pengalaman berkendara di dunia nyata bisa sangat berbeda tergantung pada kondisi dan gaya mengemudi.
Implikasinya, pembeli yang sangat mementingkan efisiensi energi dan jangkauan maksimum mungkin akan lebih memilih Model Y. Namun, bagi mereka yang membutuhkan kemampuan off-road dan ruang kabin yang lebih lega, R2 tetap menjadi pilihan yang menarik meskipun konsumsi energinya lebih tinggi. Keputusan akhir tetap bergantung pada prioritas dan kebutuhan masing-masing pengguna.





Komentar
Belum ada komentar.