Telset.id – ASML, perusahaan Belanda yang mendominasi industri mesin litografi, telah mengirimkan mesin generasi terbaru High-NA EUV (Extreme Ultraviolet) ke fabrikasi chip. Dengan banderol harga US$400 juta atau sekitar Rp6,4 triliun, alat ini menjadi tulang punggung produksi chip kecerdasan buatan (AI) masa depan.
Mesin raksasa seukuran bus tingkat dengan bobot lebih dari 150 ton ini mampu mencetak fitur transistor beresolusi delapan nanometer, setara lebar 40 atom silikon. Angka tersebut merupakan peningkatan signifikan dari generasi sebelumnya yang hanya mencapai 13 nanometer. Teknologi ini memungkinkan produsen chip seperti TSMC, Samsung, dan Intel untuk terus mengikuti Hukum Moore tanpa hambatan.
Jos Benschop, Executive Vice President of Technology ASML, menjelaskan bahwa perangkat ini terdiri dari ribuan tabung, kabel berwarna, dan tangki bertekanan tinggi. “Ini adalah perangkat mekatronik yang menahan beberapa cermin dengan presisi atom,” ujarnya saat menunjukkan mesin tersebut kepada MIT Technology Review.
Dominasi ASML dan Dampak Geopolitik
ASML menguasai sekitar 90% pasar alat litografi global, menjadikannya pemain yang tak terelakkan bagi industri semikonduktor. Namun, monopoli ini menimbulkan kekhawatiran geopolitik. Sejak 2019, pemerintah AS berhasil menekan Belanda untuk melarang penjualan mesin canggih ke China, sebagai upaya menghambat pengembangan AI negara tersebut.
China merespons dengan menggelontorkan miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi EUV sendiri. Sebuah laboratorium pemerintah China bahkan disebut telah merakit prototipe mesin EUV berukuran raksasa dengan bantuan mantan staf ASML. Meski demikian, pakar meragukan kemampuan China memproduksi chip dalam skala industri.
Baca Juga:
Strategi Intel dan TSMC
Intel menjadi pelanggan pertama yang membeli mesin High-NA ASML. Pada musim semi 2024, sebanyak 300 insinyur ASML dikerahkan ke pabrik Intel di Oregon untuk merakit dan menguji perangkat tersebut. Mark Phillips, Intel Fellow, mengaku “sangat puas dengan perkembangan alat yang cepat.” Intel berharap teknologi ini membantu mereka merebut kembali kejayaan di pasar foundry.
Sementara itu, TSMC justru memilih pendekatan hati-hati. Perusahaan Taiwan itu menyatakan akan mengadopsi High-NA saat teknologinya matang dan memberikan manfaat maksimal. Analis memperkirakan TSMC baru akan menggunakan mesin ini secara masif pada dekade 2030-an, mengingat biaya operasional yang sangat tinggi.
Marco Pieters, CTO ASML, menegaskan bahwa mesin baru ini memungkinkan pelanggan menciptakan fitur yang semakin kecil. “Ini membuka ruang bagi apa yang kita lihat sekarang di AI, yang sungguh mencengangkan. Saya pikir kita baru melihat puncak gunung es,” ujarnya.
Persaingan dari Startup Baru
Dominasi ASML mulai ditantang oleh startup seperti Substrate dan Lace Lithography. Substrate, berbasis di San Francisco, mengembangkan alat litografi menggunakan sinar-X dari akselerator partikel. Perusahaan ini menargetkan produksi chip skala besar pada 2030 dengan biaya wafer hanya US$10.000, sepersepuluh dari proyeksi biaya industri saat ini.
Sementara itu, Lace Lithography asal Norwegia menggunakan pendekatan radikal: berkas atom helium yang diarahkan ke pola reticle. Teknologi ini menjanjikan presisi 0,1 nanometer dengan konsumsi daya jauh lebih rendah. Target komersialisasi mereka adalah 2029-2030.
Namun, Jos Benschop meragukan kedua pendekatan tersebut. “Sejauh ini, saya belum melihat alternatif yang layak untuk produksi volume tinggi,” tegasnya. Chris Miller, penulis Chip War, menambahkan bahwa transisi litografi secara historis memakan waktu bertahun-tahun hingga puluhan tahun.

Masa Depan Hyper-NA
ASML sendiri tidak berhenti pada High-NA. Perusahaan sedang mengembangkan “Hyper-NA” dengan bukaan numerik 0,75 yang mampu mencetak resolusi enam nanometer. Benschop memperkirakan alat ini bisa hadir dalam tujuh hingga delapan tahun ke depan dan dijual massal pada paruh kedua 2030-an.
Dengan kapitalisasi pasar lebih dari setengah triliun dolar dan pendapatan hampir US$40 miliar pada 2025, ASML berada di posisi kuat. Pertanyaan besarnya: akankah ada pihak lain yang mampu mengejar ketertinggalan? “Kami mendorong batas fisika,” kata Pieters. “Pertanyaannya, apakah orang lain bisa mendorong lebih keras?”
Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan industri chip, simak artikel terkait Klaim Ganti Rugi Google Assistant dan Super Mario Bros. Segel Stiker.





Komentar
Belum ada komentar.