📑 Daftar Isi

Logo Polymarket pada layar smartphone usai insiden peretasan yang menyebabkan dana pengguna raib.

Polymarket Kena Retas Lagi, Rp40 Miliar Dana 700 Trader Raib

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Polymarket kembali diretas, dana US$2,6 juta milik sekitar 700 trader raib
  • Penyebabnya cacat pada alat pihak ketiga DebugBear yang digunakan Polymarket
  • Polymarket berjanji mengembalikan dana trader yang terdampak
  • Insiden serupa pernah terjadi pada Juni 2025 dengan kerugian US$3,1 juta
  • Platform juga diterpa kasus pencucian uang dan manipulasi taruhan

Telset.id – Platform prediction market Polymarket kembali menjadi korban peretasan. Insiden keamanan siber terbaru ini membuat dana pengguna senilai US$2,6 juta atau sekitar Rp40 miliar (asumsi kurs Rp15.400) raib dari sekitar 700 trader. Peretasan terjadi pada versi internasional situs web Polymarket pada Kamis (23/10/2025) waktu setempat, memaksa perusahaan menangguhkan sementara aktivitas perdagangan.

Laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang dikutip Telset.id menyebutkan, insiden ini bukan yang pertama bagi Polymarket. Perusahaan sebelumnya juga pernah mengalami serangan siber serupa. Dalam pernyataannya kepada Wired, Polymarket belum mengonfirmasi jumlah pasti pengguna yang terdampak, tetapi berjanji akan mengembalikan dana yang hilang kepada para trader.

A picture of the Polymarket logo on the screen of a smartphone.

Kesalahan pada Pihak Ketiga

Penyebab insiden keamanan terbaru ini, menurut WSJ, adalah cacat pada DebugBear, sebuah alat pemantauan dan debugging performa situs web pihak ketiga yang digunakan Polymarket. Saat artikel ini ditulis, situs web Polymarket tidak dapat diakses dan menampilkan kesalahan DNS.

Di media sosial, DebugBear mengaku telah “terdampak oleh insiden keamanan yang sedang berlangsung” dan mendesak pelanggan untuk menghapus kode embed alat mereka dari situs web masing-masing. Polymarket sendiri melalui akun X resminya menyatakan telah memperbaiki masalah yang berkaitan dengan vendor pihak ketiga tersebut dan berjanji para trader yang terdampak akan “dipulihkan dananya” (made whole).

Insiden ini menambah daftar panjang masalah keamanan yang membelit Polymarket. Pada Juni 2025, Polymarket mengakui bahwa serangan phishing canggih memungkinkan peretas menyuntikkan kode berbahaya ke situs web mereka dan menguras lebih dari US$3,1 juta dari sekitar selusin dompet pengguna Polymarket. Sebelumnya pada tahun lalu, juga sempat muncul dugaan upaya manipulasi hasil akhir taruhan terkait hak mineral Ukraina.

Selain rentan diretas, Polymarket juga dikenal akrab dengan berbagai modus penipuan dan perdagangan orang dalam. Pada bulan lalu, WSJ melaporkan bahwa para penipu membuat akun dengan kartu debit curian di platform AS milik Polymarket dan menggunakannya untuk memasang taruhan, yang secara efektif menjadi sarana pencucian uang. Praktik fraud ini begitu masif hingga pada satu titik, perusahaan pemroses transaksi kartu debit untuk Polymarket menandai lebih dari 80 persen transaksinya sebagai transaksi palsu. Secara total, para pelaku pencucian uang tersebut berupaya mengantongi dana hampir US$10 juta.

Berbagai masalah ini menempatkan Polymarket dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, platform ini terus berupaya melegalkan operasionalnya di berbagai yurisdiksi, seperti terlihat dari langkah lobi Uni Eropa dan Inggris agar tidak dianggap sebagai situs judi. Di sisi lain, rekam jejak keamanan dan integritas platform masih menjadi sorotan.

Meski demikian, aliran modal ke Polymarket tampaknya belum surut. Baru-baru ini, platform tersebut dikabarkan berhasil raup pendanaan Rp15 triliun dari 1789 Capital. Pendanaan besar ini menjadi sinyal bahwa investor masih melihat potensi besar pada model bisnis prediction market, meski tantangan keamanan dan regulasi masih membayangi.

Persaingan di sektor ini juga semakin ketat. Meta dikabarkan tengah mengembangkan sebuah aplikasi prediksi pasar berbasis poin bernama Arena, yang digadang-gadang menjadi pesaing Polymarket. Kehadiran pemain besar seperti Meta berpotensi mengubah peta persaingan industri prediction market ke depan.

Bagi para pengguna, insiden peretasan ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dalam mengelola aset digital di platform apa pun, termasuk platform prediksi pasar. Janji pengembalian dana oleh Polymarket patut diapresiasi, tetapi rekam jejak insiden keamanan yang berulang menuntut evaluasi serius terhadap sistem perlindungan data dan dana pengguna yang diterapkan perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.