📑 Daftar Isi

Dirut BAKTI Fadhilah Mathar di Pos TNI AL Maratua membahas usulan titik internet

160 Ribu Titik Minta Internet, Ini Tantangan BAKTI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • BAKTI mencatat 160 ribu usulan titik pembangunan internet dari seluruh Indonesia
  • Tidak semua usulan dapat direalisasi karena keterbatasan anggaran dan penilaian lokasi
  • Biaya pembangunan bervariasi, Rp1 miliar hingga Rp3 miliar di Papua
  • Pemerintah daerah juga bisa membangun sendiri tanpa harus melalui BAKTI
  • BAKTI sampaikan usulan 2 ribu titik blank spot untuk prioritas 2027-2028
  • Operator seluler wajib bangun jaringan di wilayah 3T melalui komitmen frekuensi

Telset.id – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat telah menerima sekitar 160 ribu usulan titik pembangunan layanan internet dari berbagai wilayah di Indonesia. Angka ini mengindikasikan masih tingginya kebutuhan konektivitas, terutama di daerah yang belum terlayani secara memadai.

Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, mengungkapkan data tersebut saat ditemui di Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (12/6). “Sekarang itu di BAKTI, kami ada sekitar 160 ribu usulan. Bayangkan, seluruh Indonesia,” ujarnya.

Menurut Fadhilah, tidak semua usulan dapat direalisasikan karena pembangunan layanan internet harus mempertimbangkan sejumlah faktor. Selain ketersediaan anggaran, BAKTI juga melakukan penilaian terhadap lokasi yang diusulkan. “Jadi kami bangun tergantung satu, apakah betul mereka perlu internet atau enggak. Yang kedua anggaran. Jadi kalau anggaran sudah ada, kapasitas ada, kita bangun,” katanya.

Asal Usulan dan Biaya Pembangunan

Fadhilah menjelaskan usulan pembangunan titik akses internet umumnya berasal dari pemerintah daerah maupun masyarakat. “Penempatan titik akses adalah usulan dari masyarakat, dari pemda. Biasanya dari bupati, dinas Komdigi, ada juga yang dari gubernur langsung,” ujarnya.

Ia mengungkapkan biaya pembangunan infrastruktur konektivitas internet bisa berbeda-beda di setiap wilayah, tergantung kondisi geografis dan teknologi yang digunakan. “Ada antara 1 miliar sampai ada yang 3 miliar di Papua,” ujarnya. Karena itu, pembangunan infrastruktur telekomunikasi tidak harus selalu dilakukan oleh BAKTI. Pemerintah daerah yang memiliki kemampuan pendanaan juga dapat membangun sendiri layanan konektivitas bagi masyarakatnya.

“Kalau anggarannya tersedia, sebenarnya nggak harus selalu dibangun oleh BAKTI. Boleh oleh Pemda. Kan ada beberapa yang memang sudah dibangun oleh Pemda,” kata Fadhilah.

Pemetaan Blank Spot Nasional

Ia menambahkan, BAKTI saat ini telah menyampaikan usulan kebutuhan pembangunan konektivitas secara nasional kepada pemerintah. Usulan tersebut mencakup pemetaan wilayah blank spot, kebutuhan pendanaan, hingga pilihan teknologi yang dapat digunakan.

“Seluruh Indonesia, kemarin saya sampaikan ada sekitar 2 ribu titik. Kita sampaikan bahwa blank spot-nya seperti ini, kondisi pembiayanya yang diperlukan adalah sekian, teknologinya ini, nanti tinggal pemerintah yang memprioritaskan apakah akan dibangun tahun 2027-2028,” paparnya.

Di pihak lain, operator seluler juga turut memiliki kewajiban mendukung pembangunan jaringan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). “Dan nggak harus melalui anggaran BAKTI karena ada juga melalui komitmen pembangunan. Kalau misalnya frekuensi diambil oleh salah satu operator seluler, mereka harus membangun wilayah 3T, itu sudah ditetapkan,” ujar Fadhilah.

Kebutuhan konektivitas yang sangat besar ini menunjukkan bahwa transformasi digital Indonesia masih menghadapi tantangan infrastruktur yang serius. Dengan 160 ribu usulan yang masuk, pemerintah dan operator seluler perlu bekerja sama untuk memprioritaskan pembangunan di daerah yang paling membutuhkan. Sementara itu, di sektor lain, berbagai perusahaan juga terus berinovasi, seperti XLSmart yang mengajak pengusaha memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas.

Selain itu, persaingan di industri teknologi juga semakin ketat dengan berbagai layanan berlangganan seperti Waymo Premier yang menawarkan fitur eksklusif dengan harga tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun akses internet masih menjadi tantangan di banyak daerah, inovasi layanan digital terus berjalan di pusat-pusat ekonomi.

[IMAGE: https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2026/06/13/bakti-komdigi-1781317592434.jpeg?w=700&q=90]

Dirut BAKTI Fadhilah Mathar (keempat dari kiri) di Pos TNI AL di Maratua. Foto: Fino/detikinet

[IMAGE: https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2026/06/13/bakti-komdigi-1781317592540.jpeg?w=800]

BTS Bakti di Maratua. Foto: Fino/detikinet

Komentar

Belum ada komentar.