Telset.id – Pemerintah Inggris menyiapkan sejumlah powers dan penalti baru untuk melindungi kabel bawah laut Inggris selama keadaan darurat keamanan nasional. Langkah ini menyusul laporan bahwa Rusia menggunakan kapal penangkap ikan komersial atau trawler untuk memetakan kabel bawah laut, dengan 500 insiden kapal Rusia yang berlamalama di atas kabel dalam empat setengah tahun terakhir.
Dalam policy paper yang dibagikan pekan ini, pemerintah Inggris mencatat bahwa Inggris “highly dependent” pada infrastruktur bawah laut yang dimiliki perusahaan swasta. Meski laporan tersebut menyebut konektivitas “resilient”, dengan “faults rarely causing noticeable disruption to data or energy availability”, infrastruktur itu tetap “vulnerable to damage from accidents and potential sabotage”.
Karena itu, Inggris sedang melakukan konsultasi terhadap perubahan legislasi untuk mencoba mengatasi risiko tersebut, terutama karena “threats to the homeland from state actors are increasing” dan “critical national infrastructure, including undersea cables and pipelines… continue to be a target”.
Ancaman Pidana Berlapis Tiga
Perubahan yang diusulkan mencakup tindak pidana baru. Salah satunya adalah menyebabkan kompromi keamanan pada infrastruktur bawah laut kritis, yang mencakup gangguan fisik maupun non-fisik, termasuk gangguan elektronik jarak jauh, aktivitas siber, dan certain preparatory conduct yang diarahkan untuk mengompromikan infrastruktur. Ada pula tindak pidana lain terkait menghalangi perbaikan dan gagal menjaga bukti saat diminta.
Dengan tindak pidana baru ini, pemerintah Inggris mengancam penalti dalam skala tiga tingkat. Hukuman hingga 14 tahun penjara diusulkan untuk intentional conduct, 10 tahun untuk reckless conduct, dan dua tahun untuk grossly negligent conduct, disertai denda yang berpotensi tidak terbatas. Pemerintah juga mempertimbangkan hukuman maksimum yang lebih tinggi untuk kasus yang lebih serius, serta apakah aturan itu akan berlaku hanya di perairan nasional Inggris atau lebih jauh lagi.

Proposal tersebut juga mencakup powers baru bagi menteri pemerintah. Dalam keadaan darurat nasional, menteri Inggris akan memperoleh kewenangan yang memungkinkan mereka memerintahkan perusahaan telekomunikasi untuk menghapus atau menonaktifkan layanan. Menteri juga dapat memaksa perusahaan telekomunikasi memberikan akses pejabat ke situs sensitif, termasuk cable landing stations.
Proposal ini berbentuk White Paper, nama untuk policy paper resmi pemerintah Inggris bagi legislasi baru, dengan pihak berkepentingan dapat merespons melalui kuesioner online hingga 14 Januari 2027.
Baca Juga:
Latar Belakang Ketegangan dengan Rusia
Hubungan Inggris dengan Rusia, seperti sebagian besar dunia Barat, memburuk sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, meski insiden lain seperti keracunan Novichok Salisbury pada 2018 telah membentuk latar belakang hubungan yang terus memburuk antara kedua negara.
Sementara itu, Rusia telah melakukan beberapa upaya untuk memetakan dan merencanakan serangan terhadap kabel bawah laut di Eropa. Pada September, laporan menyebutkan bahwa sekutu NATO telah menggagalkan latihan Rusia yang menggunakan “secret weapon” terhadap kabel bawah laut di Norwegia. Sebelumnya pada Januari, helikopter serang Royal Navy dikerahkan untuk mengusir kapal Rusia yang berlamalama kurang dari satu mil dari lima kabel bawah laut di perairan Inggris, salah satu dari 500 insiden yang dilaporkan pekan ini yang melibatkan kapal Rusia.

Langkah Inggris ini menjadi bagian dari perhatian yang lebih luas terhadap kabel bawah laut sebagai infrastruktur kritis. Sejumlah laporan sebelumnya juga menyoroti kerentanan serupa, termasuk insiden kapal yang berlamalama di atas kabel serta upaya pemetaan yang melibatkan kapal-kapal asing. Ketegangan geopolitik yang meningkat membuat negara-negara semakin serius meninjau kerangka hukum dan kewenangan pemerintah dalam melindungi infrastruktur bawah laut.
Dengan proposal ini, perusahaan telekomunikasi yang mengoperasikan layanan di Inggris perlu memperhatikan potensi kewajiban baru, mulai dari kepatuhan terhadap perintah penonaktifan layanan dalam keadaan darurat hingga pemberian akses pejabat ke situs sensitif. Konsultasi yang berlangsung hingga 14 Januari 2027 menjadi kesempatan bagi pihak berkepentingan untuk memberikan masukan sebelum legislasi final disusun.
Isu perlindungan infrastruktur kritis juga menjadi perhatian di sektor lain, seiring berbagai negara memperketat pengawasan terhadap aset strategis. Di sisi lain, dinamika persaingan dan regulasi di sektor telekomunikasi dan keamanan siber terus berkembang, sebagaimana tercermin dari berbagai kebijakan yang tengah dibahas di berbagai negara.





Komentar
Belum ada komentar.